APRIL Asia Terus Memanfaatkan Energi Ramah Lingkungan

Advertisement
Source: APRIL
APRIL Group kian gencar memanfaatkan energi yang ramah untuk lingkungan. Langkah ini membuat APRIL sanggup mengurangi penggunaan energi fosil dengan signifikan.

Selama ini, APRIL Group dikenal sebagai produsen pulp and paper terkemuka di dunia. Berbasis di Pangkalan Kerinci (Provinsi Riau), mereka tercatat sanggup memproduksi pulp sebanyak 2,8 juta ton per tahun. Selain itu, APRIL Asia juga mampu menghasilkan kertas sebanyak 1,15 juta ton dalam kurun waktu yang sama.

Sebagian besar produk pulp and paper APRIL Group didistribusikan untuk pasar di kawasan Asia Pasifik. Namun, ada pula yang dijual di Uni Eropa maupun di berbagai daerah di Amerika Utara dan Amerika Selatan.

Untuk memproduksi pulp and paper, APRIL Asia melalui unit operasionalnya PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP) dan para mitra pemasok jangka panjang mengelola hutan tanaman industri seluas 927.390 hektare. Di sana mereka menanam pohon akasia di perkebunan yang dijalankan dengan konsep terbarukan.

Akasia dipilih karena memiliki keunggulan tersendiri sebagai bahan baku pulp and paper. Setidaknya ada tiga kelebihan yang diajukan. Pertama adalah seratnya yang dinilai paling cocok untuk bahan baku kertas. Kedua, akasia lebih cepat dipanen ketika ditanam di kawasan tropis seperti Indonesia. Kalau di kawasan empat musim butuh waktu hingga 25 tahun sebelum dipanen, di daerah beriklim hangat seperti di sini, akasia hanya perlu masa lima sampai enam tahun untuk panen.

Sementara itu, alasan ketiga pemanfaatan akasia sebagai bahan baku pulp dan kertas berkaitan erat dengan pelestarian alam. Akasia ternyata memiliki kemampuan untuk memperbaiki struktur tanah. Tanaman ini juga amat berguna untuk mencegah banjir dan longsor. Kelebihan itu masih ditambah dengan kemampuan adaptasi akasia yang baik untuk tumbuh di lahan dengan kondisi berbeda-beda.

Dalam proses produksi pulp and paper, APRIL Group jelas memerlukan energi. Namun, APRIL bisa memanfaatkan energi ramah lingkungan. Mereka berhasil memproses lignin yang hadir sebagai limbah proses produksinya untuk menghasilkan bahan bakar bio.

Lignin diolah sedemikian rupa menjadi lindi hitam atau black liquor. Perlu diketahui, Black liquor merupakan limbah cair yang mengandung padatan sebesar 70%-72% yang didaur ulang dari digester pada proses pembuatan kertas.

Oleh RAPP, energi lindi hitam ini yang ditangkap sebagai sumber energi ramah lingkungan. Kuncinya adalah pengoperasian ketel uap pemulihan (recovery boiler) terbesar di dunia oleh APRIL Group.

Recovery boiler merupakan alat yang berfungsi untuk menghasilkan uap air (steam) dan mengambil kembali bahan kimia yang digunakan dalam proses pembuatan pulp. Dengan alat ini, RAPP berhasil menghasilkan energi listrik. Per tahun, tak kurang dari daya setara 390 megawatt per tahun mampu mereka hasilkan.

Berkat kemampuan ini, PT Riau Andalan Pulp & Paper mampu memenuhi kebutuhan energinya secara mandiri. Misalnya untuk kebutuhan pengeringan kertas. RAPP dapat mencukupinya dari pemanfaatan uap dari lindi hitam yang diproses menjadi listrik.

Bukan hanya itu, efisiensi energi lebih lanjut dapat digapai oleh APRIL Group dengan pemanfaatan metanol. Lagi-lagi APRIL mampu dengan jeli memanfaatkan lindi hitam. Lewat proses proses penyulingan dan penguapan (evaporasi) yang melibatkan lindi hitam, metanol bisa dihasilkan.

APRIL Asia sangat serius dalam menghasilkan energi dari metanol. Pada 2012, mereka sudah menginvestasikan dana 2,3 juta dolar Amerika Serikat untuk membangun pabrik metanol.  

Lantas apa manfaatnya? Metanol bisa digunakan kembali di dalam tungku pembakaran. Uap dari tungku pembakaran itulah yang akhirnya menggerakkan turbin untuk menghasilkan listrik. Dengan demikian APRIL mampu memproduksi energi baru.

MENEKAN PENGGUNAAN ENERGI FOSIL
Source: APRIL
APRIL Asia begitu gencar menghasilkan energi ramah lingkungan sendiri karena beragam alasan. Pertama adalah tuntutan keadaan. Saat ini, pemerintah melalui Perusahaan Listrik Negara belum mampu menyuplai kebutuhan energi untuk perusahaan. Akibatnya, jika ingin terus beroperasi, APRIL harus mampu menghasilkan energi sendiri.

Alasan kedua terkait dengan niat serius untuk menekan penggunaan energi fosil. APRIL Group berusaha terus menguranginya hingga akhirnya nanti tidak ada lagi pemanfaatan energi fosil di perusahaannya.

Seiring dengan kehadiran pembangkit energi dari black liquor maupun metanol, penggunaan energi terbarukan di tubuh APRIL Indonesia memang semakin besar. Saat ini, sekitar 85 persen energi yang digunakan berasal dari energi ramah lingkungan. “Penggunaan energi dari batubara dan gas kini hanya tinggal 15 persen,” ujar Presiden Komisaris PT Riau Andalan Pulp & Paper, Tony Wenas, di Riau Terkini.

Energi dari bahan bakar bio memang lebih bersahabat dengan alam jika dibandingkan dengan energi fosil. Di tengah kenaikan temperatur suhu bumi akibat efek rumah kaca, langkah yang diambil oleh APRIL Asia melalui unit bisnisnya, RAPP, dalam mendorong pemakaian energi ramah lingkungan akan sangat berarti.

"Emisi karbon yang dihasilkan pabrik dari penggunaan lignin yang sudah diproses ini jauh lebih kecil dari pada pemanfaatan bahan bakar minyak dan batu bara. Intinya perusahaan mencoba untuk mengurangi penggunaan energi fosil sebagai bahan bakar pembangkit energi karena dinilai banyak kalangan menyebabkan pencemaran udara dan emisi karbon," kata Manajer Lingkungan PT Riau Andalan Pulp & Paper, Edward Wahab, di Republika.

Selain itu, APRIL Group tahu persis limbah bisa menjadi masalah tersendiri jika tidak ditangani dengan baik. Limbah rawan merusak lingkungan ketika dibuang begitu saja.

Atas dasar ini, APRIL Indonesia terus memutar otak untuk mencari solusi penanganan limbah produksi pulp dan kertas. Pemanfaatannya sebagai energi listrik merupakan jawaban jitu.

Sekali tepuk, dua problem terselesaikan. Pembuatan energi dari bahan bakar bio membuat APRIL Asia mampu memenuhi kebutuhan energinya. Namun, bersamaan dengan itu, mereka juga bisa meminimalkan limbah produksinya karena dimanfaatkan menjadi listrik.

APRIL Group melakukannya karena sangat memperhatikan kelestarian lingkungan. Sebagai perusahaan yang berbasis sumber daya alam, mereka tahu persis arti kelestarian alam. Lingkungan yang terjaga akan bermanfaat bagi bisnis sekaligus menjaga bumi tetap nyaman untuk dihuni.

Oleh karena itu, beragam upaya untuk melindungi lingkungan dilakukan. Salah satunya ialah dengan memanfaatkan limbah produksi pulp and paper seperti lindi hitam sebagai sumber energi baru.

Namun, langkah APRIL dalam melindungi lingkungan bukan hanya itu. Selain menerapkan energi yang terbarukan, mereka juga melakukan pembibitan, pengamanan patroli kawasan hutan, konsisten dalam menjaga hutan yang memiliki nilai konservasi yang tinggi, serta melakukan pengelolaan kawasan gambut.

Sementara itu, ada keuntungan lain yang diraih oleh APRIL dalam menghasilkan sumber energi terbarukan sendiri. Mereka bisa membantu masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan energi listrik.

Dari total kapasitas energi yang dihasilkan oleh APRIL Group, tersisa 2 persen atau sekitar 10 megawatt setelah dipakai untuk proses produksi. Kelebihan listrik ini ternyata disalurkan APRIL untuk masyarakat. Akibatnya, publik di Pangkalan Kerinci sudah sejak lama menikmati dukungan listrik dari APRIL.

Langkah ini merupakan perwujudan nyata filosofi bisnis 5C yang ada di Royal Golden Eagle (RGE). Sebagai bagian dari RGE, APRIL Group juga ingin berkontribusi positif untuk masyarakat dan negara serta bertindak aktif dalam menjaga keseimbangan iklim.

Sumber: April.com



Advertisement

Post a Comment