Lahan Pertanian Terus Berkurang, Nasib Petani Tak Menentu

Advertisement
Bukan rahasia lagi bila sekarang dengan mudahnya kita bisa menjumpai adanya rumah diantara sawah yang membentang. Terutama untuk persawahan yang lokasinya di pinggir jalan atau di dekat permukiman. Tidak ada yang keliru, bila memang hanya itu lahan yang dimiliki, sah-sah saja membangun rumah di lokasi manapun, selama tidak menyalahi aturan.

Semakin banyaknya jumlah penduduk turut mendorong adanya pengurangan jumlah lahan pertanian. Sebagai bukti adalah apa yang sudah saya sebutkan diatas, berdirinya bangunan hunian dilahan produktif pertanian. Mudah saja untuk mencari contoh lainnya, kebanyakan saat ini pembangunan perumahan menggunakan lahan pertanian, baik itu sawah, ladang maupun perkebunan. Belum lagi pembukaan tempat usaha seperti toko, bengkel, warung makan, dan jenis usaha lainnya, berperan terhadap berkurangnya lahan pertanian.
Letak strategis lahan yang banyak berada di pinggir jalan raya atau dekat dengan permukiman membuat orang mempunyai banyak alternatif, bisa untuk perumahan atau tempat usaha. Bila sudah demikian, iming-iming harga tanah yang begitu tinggi menjadikan proses pengurangan lahan berlangsung begitu cepat.

Bukan hanya itu saja, saat ini bukan menjadi sebuah rahasia bila nasib petani sering terombang-ambing. Misalnya saja terkait kelangkaan pupuk, hasil panen yang gagal karena hama, harga hasil pertanian yang sering anjlok, sehingga petani sering merugi. Semua itu bisa menjadi faktor pendorong yang membuat petani banyak yang banting stir, mencari pekerjaan lain, sehingga pilihan yang logis adalah menjual lahan mereka dengan harga tinggi kemudian uangnya bisa digunakan untuk modal usaha.
Tentu kita tidak berharap keberadaan lahan pertanian yang terus berkurang. Karena bagaimana pun juga kita masih membutuhkan hasil pertanian lokal, tak melulu mengandalkan impor dari negara lain. Meskipun semakin kesini jumlah generasi peminat menjadi petani semakin berkurang, tak ada salahnya terus berharap agar petani di Indonesia tetap bisa bertahan, hasil pertanian pun semoga selalu baik, agar optimisme para petani tetap terjaga. Indonesia yang terkenal sebagai negara agraris tentu harus tetap terjaga, meski berat karena tergusur oleh zaman yang terus berkembang.

Advertisement

Post a Comment